Surabaya – Langkah strategis mempercepat hilirisasi hasil riset sekaligus mendukung kemudahan perizinan produk terus diperkuat melalui kolaborasi antara regulator, akademisi, dan pelaku usaha. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan One Stop Services Registrasi Obat Bahan Alam (OBA), Obat Kuasi (OK), Suplemen Kesehatan (SK), dan Kosmetik yang diselenggarakan Direktorat Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik (OTSKK) bersama Direktorat Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM pada 8–9 Juli 2026 di Aula Balai Besar POM di Surabaya.
Kegiatan yang berlangsung secara luring dan daring ini menghadirkan berbagai layanan dan inovasi unggulan BPOM, di antaranya Program PATRIOTISME, BRIDGE, NIE TUNTAS, dan LENTERA. Melalui layanan terpadu tersebut, pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk berkonsultasi secara langsung terkait pemenuhan persyaratan registrasi, strategi percepatan penerbitan Nomor Izin Edar (NIE), hingga pendampingan pengembangan produk yang memenuhi standar keamanan, mutu, dan kemanfaatan.
Selain menjadi sarana percepatan registrasi produk, kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara BPOM dan perguruan tinggi dalam mendorong hilirisasi hasil penelitian. Berkolaborasi dengan Universitas Airlangga, BPOM menyelenggarakan sosialisasi dan coaching clinic melalui inovasi BRIDGE yang bertujuan menjembatani hasil riset agar dapat berkembang menjadi produk yang siap dipasarkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dekan Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Prof. Dewi Melani, menyampaikan harapannya agar kolaborasi ini semakin mempermudah transformasi hasil penelitian menjadi produk yang bernilai tambah dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Menurutnya, dukungan regulator menjadi faktor penting dalam mempercepat proses hilirisasi inovasi dari laboratorium menuju pasar.
Sejalan dengan hal tersebut, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, Kashuri, menegaskan bahwa BPOM berkomitmen mendukung hilirisasi riset menjadi produk komersial dengan tetap mengedepankan aspek keamanan, mutu, dan khasiat. Pendampingan yang diberikan diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk nasional sekaligus memberikan jaminan perlindungan bagi konsumen.
Kegiatan ini juga sejalan dengan inovasi Balai Besar POM di Surabaya, yaitu Sinergitas Pengawasan dan Pembinaan Obat Tradisional (SIPPOTRA). Inovasi tersebut dirancang untuk memperkuat pembinaan dan pendampingan bagi pelaku usaha obat tradisional, mulai dari peningkatan pemahaman regulasi, pengembangan produk, hingga proses perizinan dan pemasaran. Melalui SIPPOTRA, BBPOM di Surabaya terus mendorong terciptanya ekosistem yang mendukung pertumbuhan industri obat bahan alam yang aman, bermutu, dan berdaya saing.
Di samping mendukung hilirisasi riset, BPOM juga memperkuat literasi regulasi melalui Program PATRIOTISME. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman pelaku usaha dan masyarakat mengenai aspek keamanan, mutu, khasiat, klaim, penandaan, serta proses registrasi dan notifikasi produk sesuai ketentuan yang berlaku. Peningkatan literasi regulasi diharapkan dapat mendorong kepatuhan pelaku usaha sekaligus mempercepat lahirnya produk-produk inovatif yang memenuhi standar pengawasan.
Para pelaku usaha menyambut positif pelaksanaan layanan terpadu ini karena memberikan akses yang lebih mudah terhadap informasi dan pendampingan teknis. Kehadiran BPOM secara langsung di tengah pelaku usaha menjadi wujud nyata pelayanan yang responsif dan kolaboratif dalam mendukung perkembangan industri obat bahan alam, obat kuasi, suplemen kesehatan, dan kosmetik.
Melalui pendekatan jemput bola yang dipadukan dengan inovasi pembinaan seperti SIPPOTRA, BPOM semakin menegaskan perannya tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai mitra strategis yang mendukung pertumbuhan industri nasional. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak produk inovatif hasil karya anak bangsa yang aman, bermutu, berkhasiat, dan mampu bersaing di pasar global.